#SELFREMINDER

We always say, “Allah remove the bad people from our lives.”

But, what makes we think that we’re the “good ones”?

Maybe, we’re the “bad one” in someone’s life and Allah removed us from them.

Astaghfirullah…

Iklan

Keluh

Enggak ada pundak?
Masih ada sujud buat nangis, kok.

The most important thing, we always (bahkan terlalu) forget is by whom we were created and to whom we should complain. Yaa, Rabbii… kenapa lelah-lelah mencari pundak sedangkan sujud kepada-Mu saja sudah amat menenteramkan hati?

Nostalgia?

Menuntut ilmu di mana pun; kapan pun; dan pada siapa pun. Apa yang pernah dipelajari, minimal jangan sampai lupa, lebih baik lagi ajarkan juga pada yang lainnya!

Ada perasaan yang menyeruak secara tiba-tiba, ketika aku menyapa kembali mantan sekolah (ya, ampun mantan…) dan rasanya…

Rasanya?

Apa, ya, kata yang tepat yang bisa mendeskripsikan rasa hatiku kemarin malam… selain, rindu?

Dengan hanya menyapa dua orang yang pernah bersama-sama denganku dulu, sekitar 11 tahun yang lalu? (YA, ALLAAH SERIUSAN UDAH SELAMA ITU YA?) Lama sekali, sampai-sampai sudah banyak hal yang berubah. Ya… yang tetap sama adalah kenangannya, bahwa kami dulu pernah menuntut ilmu bersama di gedung yang sama. Dan tidak sampai menjadi alumni yang terlupakan, hehe.

“Qonita, kan?”
“Ih, Firda? Kamu?”
“Iya, aku.”
“Ya, ampun… beda banget!”

“Masih ingat aku enggak, Bu?”
“Wajahnya ingat, kok… tapi namanya?”
“Firda, Bu! Angkatan enam!”
“Oh… iya! Firda, Ibu ingat! Apa kabar? Kamu di mana sekarang?”
“Alhamdulillaah. Di SMA 23, Bu, hehe.”
“Oh, iya iya.”
“Ibu masih di sini?”
“Ah, di mana lagi atuh Ibu mah, di sini aja. Hehe.”
“Ada acara apa, Bu?”
“Pengajian alumni, sekaligus buat ngumpulin alumni lagi biar bersatu lagi.”
“Wah, keren, Bu!”
“Iya. Intinya di mana pun berada, tetep menuntut ilmu, sama siapa pun sama saja.”

Kemudian, teringat lagi dengan masa-masa itu. Enam tahun berada di gedung ini rasanya banyak sekali kisah yang tak bisa dibendung lagi bila diungkapkan seluruhnya. Enam tahun yang kemudian mengantarkanku menuju SMP hingga kini SMA? Seragam kotak-biru yang selalu dipuji orang, “Itu seragam sekolahmu? Lucu sekali.” Seingatku dulu, belum ada aula di sekolah ini, hingga sekarang, tiba-tiba sudah ada. Ditambah lagi, masjidnya yang megah dan Alhamdulillaah selalu ramai jamaah. Ya ampun dulu aku suka lari-lari di sini, ya ampun dulu aku jajan di kantin, ya ampun dulu aku belajar di sini, ya ampun dulu aku kecil… sekarang sudah sebesar ini? Dulu, di hari kelulusan rasanya bangga sekali bisa lulus dari SD, meninggalkan masa kanak-kanak dengan sejuta pikiran tentang kehidupan remaja yang menyenangkan menanti di depan mata. Akhirnya enam tahun itu terlewati juga.

Tapi kenapa, sekarang ada perasaan ingin kembali lagi?

Lucu ya, waktu?

Setelah bertahun-tahun lamanya, setelah mengalami fase remaja yang dulu selalu kudambakan, pada akhirnya aku tetap kembali ke MI At-Taqwa dengan perasaan senang, bangga pernah menjadi bagian dari sekolah ini, disertai rindu yang tak henti-hentinya menyeruak riang.

Kamu bagaimana? Sudahkah kamu mengunjungi mantan sekolahmu? 🙂

Surat untuk Ayah

Ayah Sayang, yang berpeluh mencari nafkah
Kucoba bersikap ramah tamah
Mengeroki punggungmu merah-merah
Bagaimana harimu, Ayah?

Ayah Sayang, Ayahku Sayang

Aku sudah mendengar tentangmu
Tidak ada yang aku lewatkan
Mimpi-mimpi Ayah dahulu,
serta kisah cinta Ayah dan Ibu
Ternyata,
dibalik wajah sangar itu Ayah romantis juga, ya
Cinta dan janjimu yang kau ikrarkan hanya untuk bidadari seperti Ibu,
aku mengagumimu, sungguh
Dan ternyata kau berharap banyak padaku, ya?
Maka maafkan aku, Ayah Sayang,
aku banyak merepotkanmu
pun aku belum mampu menjadi putri terbaikmu,
membukakan pintu surga lebar-lebar untukmu

Ayahku Sayang, yang telah ikhlas mendengar segala keluh kesahku,
tetap membelaiku lembut meski seringkali aku malah mengecewakanmu

Katakan,
bagaimana perasaanmu ketika kelak ada lelaki yang datang padamu,
lalu menginginkanku?
Mengingat kau telah banyak berpeluh untukku
Namun tak jua ku mampu membalas seluruhnya
Dalam hangat rindu yang kupakai untuk mendekap tubuhmu yang mulai melemah
Ada jejak nelangsa yang mengendap sejak lama

Ayah Sayang, Ayahku Sayang

Apa yang harus kulakukan dengan seluruh harapan itu,
sedang sampai sekarang aku masih banyak menggores luka di hatimu
Pilu hatiku membayangkan itu semua, Ayah
Sembari berurai air mata
Kubisikkan bait-bait doaku pada bumi,
teruntuk lelaki ksatria yang paling aku cintai

Purnama

“Indah, ya?”
“Apa?”
“Purnama malam ini.”
“Ah, ya.”
“Hei, menurutmu, zaman sekarang kalau ada orang yang tiba-tiba pinjam uang, apa kau akan pinjamkan?”
“Orang… siapa?”
“Entah. Dia hanya tiba-tiba datang dan meminjam uang padamu.”
“Kalau begitu, sudah jelas bukan? Tidak.”
“Kasihan, padahal dia lagi butuh, loh.”
“Memang dia siapa?”
“Zaman sekarang, susah ya mendapat kepercayaan. Yang kenal saja belum tentu dapat dipercaya, apalagi yang tidak kenal.”
“Kau mengoceh apa, sih?”
“Menurutmu kenapa begitu?”
“Karena terlalu banyak orang jahat di dunia ini, orang baik pun bisa jadi jahat.”
“Kalau dulu banyak sekali orang jahat, loh. Tapi kala itu datang satu orang baik, kenapa orang-orang dengan mudah mempercayainya?”
Kamu mengernyit.
“Rasulullah. Kau bisa tangkap maksudku? Beliau mendapat gelar al-amin. Lihatlah betapa mulianya akhlak beliau, menjadi satu kebaikan di antara ribuan kejahatan, sehingga orang-orang bisa mempercayainya.”
Kamu tersenyum. “Aku tahu.”
“Hm?”
“Bagai purnama, terang benderang. Sehingga kegelapan di sekitarnya abai.”

Wonder Business Woman: Perempuan itu Multitasking

Women may have lack of brain, but they have goodness in their heart.

Bandung, 4 Juni 2017

Ya jadi satu bulan lalu, aku menghadiri acara Talkshow Jasmine P3R 1438 H yang diadakan oleh teteh-teteh panitia Jasmine P3R Salman ITB. Ini khusus perempuan (literally, karena kan emang namanya juga udah Jasmine) berlokasi di Aula Barat ITB. Alasan ikut Talkshow? Apa ya, klise sih pengin dapet ilmu baru aja, ngisi Ramadhan juga dengan hal bermanfaat. Anyway, dengan tema Talkshow-nya: Wonder Business Woman yang membuat aku tertarik dan Alhamdulillah dapet ilmu baru sesuai dengan apa yang diharapkan. Lanjutkan membaca “Wonder Business Woman: Perempuan itu Multitasking”